Apa ini sebenarnya
PRD (Product Requirements Document) adalah dokumen yang menjelaskan produkmu secara utuh sebelum satu baris kode ditulis: masalah yang dipecahkan, siapa penggunanya, fitur apa saja yang masuk, apa yang sengaja TIDAK dikerjakan, dan ukuran suksesnya. Alat ini memandumu lewat pertanyaan bertahap, lalu menghasilkan dokumen 18 seksi yang rapi. Ada dua mode: buat PRD baru dari nol, atau tempel PRD lama untuk direvisi.
Seperti denah rumah sebelum tukang datang. Tanpa denah, tukang menebak — dan tebakan itu dibayar pakai bongkar-pasang.
Masalah yang dipecahkan
Proyek berantakan bukan karena kodenya jelek, tapi karena "kirain". Kirain fitur itu termasuk, kirain deadline-nya bulan depan, kirain yang dimaksud klien begitu. PRD mengunci semua "kirain" jadi kalimat tertulis yang bisa ditunjuk.
Cocok untuk
Waktu yang tepat memakainya
Yang kamu siapkan
- Deskripsi produk minimal ±400 karakter (atau tempel PRD lama untuk mode revisi)
- Jenis produk: software, produk fisik, layanan, atau kombinasi
- Target pembaca dokumen & konteks solo/tim
- Tahap produk (ide, MVP, live, scale-up) dan tone dokumen
Yang kamu dapat
- Ringkasan eksekutif + rumusan masalah yang tajam
- Persona pengguna dan user stories yang bisa diuji
- Daftar fitur berprioritas + scope IN vs OUT yang eksplisit
- Metrik sukses, asumsi, risiko, dan rencana rilis bertahap
Contoh nyata
"Aku mau bikin aplikasi absensi karyawan pakai selfie."
PRD 18 seksi: 3 persona (HR, karyawan lapangan, owner), 24 user story, MVP dikunci ke 6 fitur, 11 hal dinyatakan OUT of scope, 4 metrik sukses, 9 risiko dengan mitigasi.
Batasnya: PRD tidak membahas cara teknis membangunnya (itu SDD Architect) dan tidak memecah pekerjaan jadi jadwal (itu WBS Architect).